Nalea Karya:Sungg ing Raga Tidurlah, Nalea. Esok kita abadi. Gadis kecil itu memucat, bibirnya membiru karena dingin. Hujan belum juga reda sejak sore tadi. Jalanan basah dan sebagiannya menampakkan genangan pekat seperti menandakan begitu kelamnya kehidupan di kota ini. "Ini, pakai jaket," kata ayahnya. Lelaki itu menyentuh kening Nalea, dan memang terasa hangat."sepertinya kamu masuk angin." Mereka sedang berteduh dietalase toko. Kemilau basah lampu-lampu jala, papan reklame, juga sorot mobil dan motor, semua adalah cahaya yang menyelingi udara dingin disekujur kota Nalea masih berbarig di pangkuan lelaki it. Iaberkeringat, membuat helai rambutnya menempel di kening. Napasnya berat matanya setengah terpejam. Lelaki itu t...
Postingan
Menampilkan postingan dari Oktober, 2019